Kamis, 21 Maret 2013

Iman T-Ball

Orang yang merancang permainan T-ball adalah seorang jenius: Tiap anak yang bermain di lapangan dapat merasakan serunya dan senangnya pertandingan sebelum mereka merasa kecewa karena mengalami kekalahan.

Dalam permainan T-ball, sebuah bola diletakkan di atas sebuah tiang karet setinggi pinggang anak berumur 5 atau 6 tahun. Pemain akan mengayunkan pemukul sampai bolanya terpukul, lalu ia berlari. Pada hari pertama saya menjadi pelatih, si pemukul pertama memukul bola dengan kuatnya hingga mendarat di lapangan bagian luar. Tiba-tiba saja, tiap pemain dari tiap posisi berlari dari tempat mereka seharusnya berada untuk mengejar bola itu. Ketika salah satu dari mereka berhasil mendapatkannya, tak seorang pun ada di lapangan bagian dalam untuk menerima lemparan bola darinya! Semua pemain berdiri bergerombol dan tak bisa menahan diri untuk tidak bersorak gembira!

Orang-orang yang baru mengenal Yesus sebagai Juruselamat juga tidak dapat menahan diri untuk tidak bersukacita, dan ini membuat orang sekitarnya juga bersukacita. Kita juga bersukacita bersama mereka, seperti halnya para malaikat di surga! (Luk. 15:7). Para petobat baru ini sedang jatuh cinta kepada Allah dan begitu bersemangat untuk mengenal serta belajar dari firman-Nya.

Orang yang telah lama menjadi Kristen bisa jadi merasa lelah karena pergumulan-pergumulan dalam kehidupan imannya dan melupakan sukacita yang dialaminya ketika bertobat. Oleh karena itu, ambillah kesempatan untuk bergembira bersama para petobat baru. Allah bisa memakai mereka untuk memperbarui komitmen kita kepada Yesus. —RKK

Bergembiralah jiwaku, utangmu telah dibayar,
Karena dosamu ditanggungkan kepada Kristus;
Kita telah ditebus, dan juga dibenarkan—
Dan semua itu karena kematian Juruselamat. —D. DeHaan
Buatlah aku gembira lagi karena keselamatan daripada-Mu. —Mazmur 51:14

(Dikutip dari RBC)


Sabtu, 16 Maret 2013

SARS


Bacaan: 1 Petrus 5:8-11

Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. (1 Petrus 5:8)

Tahun 2003 Hong Kong menjadi salah satu negara yang terkena wabah SARS yang memakan korban ratusan jiwa. Selanjutnya, beberapa kali Hong Kong terserang wabah flu burung, meski tidak seberat tahun 2003. Pemerintah mendorong warga untuk melakukan langkah-langkah perlindungan diri dan pencegahan. Hong Kong adalah negara kecil namun berpenduduk padat sehingga virus dan penularan dapat menyebar dengan cepat jika tidak dilakukan tindakan pencegahan.

Menjaga kebersihan dengan sering mencuci tangan dan memakai masker jika terserang flu sudah menjadi budaya di Hong Kong. Sabun cair pencuci tangan (yang berfungsi untuk membunuh kuman) tersedia di tempat-tempat umum. Lift, eskalator, transportasi umum selalu disterilkan setiap 3 jam. Bahkan sekolah mewajibkan anak-anak untuk diukur suhu tubuhnya setiap hari sebelum masuk sekolah. Langkah-langkah penjagaan diri yang cukup ketat. Warga Hong Kong melakukan semua ini dengan kesadaran karena mereka pernah mengalami dampak yang mengerikan dari wabah tadi. Mereka tidak ingin kejadian itu terulang.

Kita mungkin pernah mengalami dampak pahit sebagai akibat dari dosa yang kita lakukan. Hal itu seharusnya menyadarkan kita untuk menjaga diri. Virus dosa beterbangan di mana-mana. Serangan Iblis dan segala macam godaan dosa sangat kuat beredar di sekeliling kita seperti singa kelaparan yang mencari mangsa. Setiap saat kita bisa diserang dan menjadi korban. Sadarlah dan berjaga-jagalah!—NAT

MELEKAT PADA TUHAN DAN MENGANDALKAN KUASA ROH KUDUS ADALAH BENTUK PENJAGAAN DIRI YANG EFEKTIF

www.todaymanna.com

Jumat, 15 Maret 2013

Yesus lah Tuhan


Bacaan: Lukas 8:26-39

Ketika ia melihat Yesus, ia berteriak lalu tersungkur di hadapan-Nya dan berkata dengan suara keras: “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus Anak Allah Yang Mahatinggi? Aku memohon kepada-Mu, supaya Engkau jangan menyiksa aku.” (Lukas 8:28)

Sudah beberapa tahun Nur gelisah dan sedih dengan kondisi ayahnya yang sering diolok-olok oleh anak-anak kampung. Mereka mengatakan bahwa ayahnya gila. Nur tahu bahwa ayahnya tidak gila, tetapi diganggu oleh roh jahat. Suatu hari, Nur membuka Alkitab pemberian atasannya. Ia membaca bahwa Tuhan Yesus mengusir roh jahat. Saat itu ia teringat pada ayahnya. Ia berdoa, ”Yesus, jika Engkau memang Tuhan, tolong sembuhkanlah ayahku.” Dua minggu kemudian ia mendapat kabar dari ibunya bahwa ayahnya sudah sembuh. Sejak saat itu Nur percaya bahwa Yesus sungguh adalah Tuhan.

Berada dalam genggaman Setan memang sengsara. Itulah yang dialami oleh seorang pria di Gerasa. Ia sudah lama tidak berpakaian, bahkan tinggal di pekuburan. Namun, Tuhan Yesus begitu mengasihinya. Yesus sengaja datang ke Gerasa untuk membebaskannya. Tuhan Yesus sungguh hidup. Iblis mengenal-Nya dan takut kepada-Nya. Dengan tersungkur di hadapan-Nya, Iblis mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah Yang Mahatinggi.

Jangan bermain-main dengan kuasa kegelapan. Sekali ia mengikat kita, ia tidak akan melepaskannya. Ia bahkan akan menghancurkan kita. Hanya ada satu harapan untuk dapat lepas dari kuasa kegelapan, yaitu dengan datang kepada Tuhan Yesus. Ia adalah Tuhan yang hidup dan sejati, yang sanggup membebaskan kita. Setelah dilepaskan, hiduplah sepenuhnya bagi Kristus. Ceritakanlah perbuatan-Nya yang ajaib kepada semua orang agar mereka pun mengenal Kristus dan diselamatkan—VT

YESUS ADALAH TUHAN ALLAH YANG HIDUP IA BERKUASA MELEPASKAN ANDA DARI YANG JAHAT

Senin, 11 Maret 2013

Sedapat-dapatnya

Roma 12:9-21

Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! (Roma 12:18)

Seorang teman curhat, “Saya mengalami konflik dengan seorang teman di gereja. Masalahnya sepele. Saya taruh Alkitabnya di kotak tempat Alkitab-Alkitab yang ketinggalan di gereja. Saya sama sekali tidak tahu kalau itu Alkitabnya. Saya pikir Alkitab orang yang ketinggalan karena tergeletak di kursi gereja. Ia marah kepada saya. Ia menganggap saya mau ngerjain dirinya, ingin membuatnya susah, membencinya. Saya sudah minta maaf, sudah menjelaskan pula, tapi ia tetap tidak terima. Saya harus bagaimana lagi?”

Dalam berelasi dengan sesama—di kantor, kampus, atau gereja—mungkin kita juga pernah mengalami hal serupa: bertemu dengan ”orang yang sulit”. Apa pun yang kita lakukan disalahartikan. Selalu berprasangka buruk terhadap kita. Kadang hal itu menjadi konflik batin kita juga. Di satu sisi, kita harus mengasihi dan hidup damai dengan orang lain. Namun, ada orang yang menganggap kita seperti “kucing melihat anjing”: membenci, bersikap sinis, bahkan kasar. Sangat menjengkelkan.

Lalu bagaimana? Bertepuk tangan harus menggunakan dua tangan, demikian pula hidup damai dengan orang lain. Kita tidak dapat memaksa orang lain untuk bersikap sama seperti kita. Itulah sebabnya Rasul Paulus berkata, “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu.” Memang, kita harus selalu berusaha hidup damai dengan orang lain, tetapi kalau ternyata ia menolaknya, itu di luar kemampuan kita. Jangan terus menyalahkan diri sendiri. Yang penting, kita tidak membencinya—AYA

BAGIAN KITA ADALAH MENGASIHI. DITERIMA ATAU TIDAKNYA KASIH KITA, ITU DI LUAR WEWENANG KITA.
Dari: www.todaymanna.com

Semua gayaku terekam dalam momen ini

Yah ini dia gayaku yang agak-agak gimana gitu check it out!
Hahahaha cool men!!









Minggu, 10 Maret 2013

Secret of Inner Peace

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. (Matius 11:28-29)

Undangan Yesus ini ditujukan kepada setiap orang yang letih lesu, seperti orang yang sudah bekerja keras lalu dipalu dengan godam, atau yang mengalami penderitaan bertubi-tubi. Juga orang yang berbeban berat, yang harus bekerja keras sampai kepayahan, atau ditimbuni beban sampai tak mampu memikulnya.

Yesus berjanji untuk memberi kelegaan. Namun, kelegaan itu hanya dapat diperoleh jika kita mau datang kepada-Nya, menyerahkan segala beban kita, sekaligus memikul kuk yang dipasang-Nya. Perkataan Yesus ini tampaknya kontradiktif, tetapi sebenarnya tidak demikian. Apa yang membuat hidup kita berat bukanlah besarnya masalah kita, melainkan sikap kita dalam menghadapinya. Kita sering melihat masalah kita dari sudut pandang kita yang terbatas dan berusaha menyelesaikannya dengan cara kita sendiri.

Kuk adalah kayu bersilang yang biasa dipasang di tengkuk dua ekor lembu yang menarik pedati. Jadi, memikul kuk bersama Tuhan Yesus berarti memikul masalah kita bersama-Nya. Beban seberat apa pun akan menjadi ringan, sebab Dialah yang memikul beban yang terbesar.

Kuk juga berfungsi untuk menjaga agar lembu-lembu itu berjalan dengan benar. Bila lembu itu taat, kuk akan terasa ringan. Namun, jika ia memberontak, tengkuknya akan sakit dan terluka. Demikian pula bila kita menghadapi masalah dengan ketaatan kepada firman-Nya, beban kita akan terasa ringan. Namun jika kita memberontak, diri kita akan terluka dan hancur. Mana yang kita pilih?—RRN

RAHASIA KETENANGAN JIWA: KOMITMEN UNTUK TUNDUK PADA KEDAULATAN ALLAH DAN PERCAYA PADA PEMELIHARAAN-NYA

Di ambil dari: http://www.todaymanna.com/renungan/rahasia-ketenangan-jiwa/